Senin,  02 August 2021

Bukan Nakutin, Sebaiknya Saat Corona Gini Tahan Dulu Agar Tak Hamil

NS/RN
Bukan Nakutin, Sebaiknya Saat Corona Gini Tahan Dulu Agar Tak Hamil
Ilustrasi

RN - Ini peringatan buat Anda. Sebaiknya di era Corona ini bisa menahan diri tidak punya anak. 

Sebab, kasus ibu hamil yang terpapar meningkat. Direktur Kesehatan Keluarga (Kesga) Kementerian Kesehatan, Erna Mulati mengatakan kasus ibu hamil yang terkena Covid-19 meningkat. 

Sehingga saat ini ia sedang mengatur Rumah Sakit (RS) di pusat maupun daerah untuk menyediakan fasilitas lengkap untuk ibu hamil yang terpapar virus tersebut.

BERITA TERKAIT :
Jateng Terbanyak, Kasus Kematian Di Kaltim Dan Lampung Melonjak 
Warga Bogor Seperti Sok Kebal Corona, Ini Faktanya...

"Ya dari laporan memang saat ini ibu hamil yang terkena Covid-19 meningkat. Ibu hamil yang terpapar ini kondisinya cepat memburuk. Apalagi kalau sudah menuju persalinan. Kami harus ambil tindakan sesar. Kebanyakan bayinya ketolong ibunya tidak. Kami berusaha mengurangi penderitaan ibu hamil tersebut," katanya dikutip dari Republika.co.id, Rabu (21/7).

Kemudian, ia melanjutkan pada dasarnya regulasi dari Kemenkes masyarakat yang terkena Covid-19 dari yang bayi sampai lansia dirujuk ke RS Covid-19. Namun, kebanyakan ibu hamil ini pergi ke RS bersalin biasa bukan ke RS rujukan Covid-19.

"Memang saat ini RS penuh. Ini yang sedang kami atur bagaimana tempat buat ibu hamil ini apalagi jika menuju persalinan. Harus ada tempat tidur bayinya dan fasilitas yang lengkap," kata dia.

Ia menyarankan bagi ibu hamil yang terpapar Covid-19 dan melakukan isolasi mandiri agar rajin mengecek mengukur kadar oksigen dalam darah dengan oximeter. Jika kurang dari 95 harus segera ke RS.

"Ibu hamil harus banyak literasi ya apalagi yang isolasi mandiri. Tetap konsul dengan dokter kandungannya dan makan yang bergizi. Prokes diketatkan ya," kata dia.

Anggota Komisi IX DPR RI Kurniasih Mufidayati meminta pemerintah untuk memprioritaskan pelayanan bagi ibu hamil terutama yang terkonfirmasi positif Covid-19. Hal tersebut menyusul angka kematian ibu hamil dan bayi saat pandemi dikonfirmasi terus meningkat. 

"Data POGI kemungkinan besar akan meningkat pada bulan Juni-Juli melihat banyak laporan ibu hamil meninggal karena positif Covid-19 karena tidak mendapat perawatan yang memadai karena Fasyankes penuh," kata Mufida dalam keterangan, Senin (19/7).

Dia mengatakan, peningkatan itu terlihat dari Jurnal dari St George's University of London data dari 40 studi di 17 negara. Temuan jurnal ini terkonfirmasi terjadi di Indonesia. 

Mufida mengatakan, angka kematian ibu hamil di Jawa Tengah pada 2020 meningkat menjadi 530 dibanding pada 2019 sebanyak 416 kasus. Sedangkan, POGI mencatat sebanyak 536 ibu hamil dinyatakan positif Covid-19 selama setahun terakhir. 

Dari jumlah tersebut, tiga persen di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Data itu dikumpulkan sejak April 2020 hingga April 2021. Mufida mengatakan, jika ibu hamil meninggal maka Indonesia sebenarnya telah kehilangan dua nyawa. 

Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga PKS itu menegaskan, hal tersebut bukan sekadar deretan angka laporan kematian. "Perlu prioritas perawatan bagi ibu hamil yang terkonfirmasi positif Covid-19," katanya.