Kamis,  13 June 2024

Cipika-Cipiki AHY Dan Moeldoko Di Istana, Netizen Riuh Sebut Politik Gentong Babi?

RN/NS
Cipika-Cipiki AHY Dan Moeldoko Di Istana, Netizen Riuh Sebut Politik Gentong Babi?
Salaman AHY dan Moeldoko di Istana Negara.

RN - Pertemuan Menteri ATR BPN, Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY dengan Kepala Staf Presiden, Moeldoko riuh. Warganet gaduh dan memberikan sindiran.

Awalnya, Imam Islamic Center of New York, Amerika Serikat (AS), Shamsi Ali, membagikan video kebersamaan AHY dan Moeldoko.

AHY dan Moeldoko pernah 'berperang' merebutkan Partai Demokrat yang nyaris 'dibegal' Mantan Panglima TNI itu.

BERITA TERKAIT :
Partai Demokrat Masih Galau Menatap Pilkada Jakarta
Ngebet Wali Kota Dipilih Langsung Oleh Rakyat, Mercy Jakarta Ajukan Uji Materi ke MK

Dalam video itu, AHY tampak berjabat tangan dengan Kepala Staf Presiden, Moeldoko. Momen keduanya bersalaman terjadi ketika keduanya hadir di sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Senin (26/2/2024).

"Damai yee!" tulis Imam Shamsi Ali melalui akun X-nya, @ShamsiAli2, Senin (26/2/2024).

Cuitan Imam Shamsi Ali tentu saja memancing netizen untuk berkomentar. Mayoritas, para netizen juga menyindir AHY dan Moeldoko.

"Udahlah.. Selama ini juga cuma drama kok. Kalau si mul ini niat begal udah keambil dr awal tuh mercy," kata @PapaOwl_.


"Gak ada harga diri ya tu manusia-manusia. Moral kalian sudah di bawah telapak kaki," tulis @yandiAfri290409.

"KUDETA (Kembali Dekat Ternyata)," balas @DaddyMinusSugar.

"Politik GENTONG BABI. Bukan lagi idealisme yang diperjuangkan tapi kepentingan. Dulu kadernya berdarah-darah berjuang agar partai nggak dibegal, tapi sekarang demi menteri 8 bulan, rujuk dan mengabaikan perjuangan kadernya," kata @Tasyfin_01.

"Hanya segitu. Gimana perasaan rakyat Demokrat yaa hihihihi," tulis @roy19683.

"Menikmati hidangan di menit-menit terakhir! Lumayanlah dari pada tidak sama sekali. Soal harga diri, urusan nanti," kata @RakhmadIrawan9.

Sebelumnya diberitakan, AHY yang hadir perdana di sidang kabinet ditanya terkait apakah dirinya menyiapkan waktu khusus bertemu Kepala Staf Presiden, Moeldoko di sela-sela kehadirannya di Istana.

AHY hanya menjelaskan kehadirannya di Istana Negara guna memenuhi undangan mengikuti sidang kabinet paripurna.

"Waktu khusus? Wah kalau waktu khusus nggak tahu ya. Yang jelas saya datang memenuhi undangan untuk sidang kabinet paripurna. Yang jelas saya tidak ingin, tidak fokus," kata AHY di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (26/2/2024).

AHY mengaku dirinya sekaligus ingin berkenalan dan bersilaturahmi. "Saya juga ingin berkenalan, bersilaturahmi dengan semua menteri kabinet Indonesia Maju karena semua adalah kolega. Semua adalah mitra yang harus saya kenali dan berhubungan dengan baik," ujar AHY.

Usai kalah dalam Pilkada DKI Jakarta, AHY ditunjuk sebagai Wakil Ketua Umum Partai Demokrat pada Oktober 2019. Setelah itu, pada Kongres V Partai Demokrat yang berlangsung pada 15 Maret 2020 di Jakarta, AHY secara aklamasi terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat periode 2020–2025.

Goncangan dahsyat terjadi di tubuh Demokrat saat dipimpin AHY. Sejumlah kader Demokrat menggelar Kongres Luar Biasa di The Hill Hotel and Resort, Deli Serdang, Sumatera Utara pada tahun 2021 silam.

Berdasarkan voting, Moeldoko yang menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat periode 2021-2025 pada 5 Maret 2021. Mantan Panglima TNI itu mengalahkan Marzuki Alie yang dicalonkan oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Demokrat Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sedangkan Moeldoko didukung DPD Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Papua Barat, hingga Aceh. Keputusan kemenangan Moeldoko disampaikan oleh pimpinan sidang Jhoni Allen Marbun.

Kubu AHY langsung bereaksi atas KLB itu. Mereka menyatakan kegiatan itu tidak sah, ilegal, dan inkonstitusional. Setelahnya, kubu Moeldoko daftarkan hasil KLB ke Kemenkumham pada 15 Maret 2021. Meski begitu, Menkumham Yasonna Hamonangan Laoly menolak pendaftaran hasil KLB Partai Demokrat kubu Moeldoko.

Drama gerilya Moeldoko merebut Partai Demokrat akhirnya berakhir di Mahkamah Agung (MA). MA memutuskan menolak upaya peninjauan kembali (PK) yang diajukan Moeldoko terhadap AHY dan Partai Demokrat. Keputusan itu diambil oleh Hakim Agung Lulik Tri Cahyaningrum dan Cerah Bangun.