Jumat,  21 June 2024

Opini Sepekan

Konflik Megawati dan Jokowi Bisa Seperti SBY

Redaksi RN
Konflik Megawati dan Jokowi Bisa Seperti SBY
Megawati dan Jokowi.

RN - Pembelotan atau penghianatan menjadi hal biasa buat Megawati. Putri Bung Karno ini sudah ditempa sejak era Soeharto. 

Hilir mudik, orang datang ke Megawati hanya untuk kepentingan politik hingga bisnis. Ketika semuanya tercapai, Megawati bisa saja dilepeh dan dihianati. 

Sejarah mencatat, Mega pernah berseteru dengan SBY. Ketua Umum PDIP itu tidak mau bertemu bahkan menjadi oposisi selama 10 tahun ketika SBY menjabat Presiden.

BERITA TERKAIT :
Menko PMK Bilang Ada Bansos Judi Online, Tapi Jokowi Menolak
Kopi Hambalang Penyusun Kabinet Prabowo-Gibran, Bos Parpol Jangan Baper 

Pengkhianatan bisa diartikan bentuk pemutusan, perusakan, atau pelanggaran terhadap suatu kontrak praduga, persetujuan, kerja sama, kepercayaan, atau keyakinan, yang menciptakan konflik secara moral dan psikologis dalam hubungan antarindividu, antarorganisasi, atau antara individu dan organisasi. 

Sering kali pengkhianatan dapat berupa tindakan untuk mendukung kelompok musuh atau saingan, atau juga berupa bentuk pemutusan hubungan kerja sama secara penuh dengan mengabaikan aturan atau norma yang sebelumnya diputuskan atau disepakati bersama. 

Seseorang yang mengkhianati orang lain disebut pengkhianat. Pengkhianatan juga merupakan salah satu elemen sastra yang umum digunakan, yang juga digunakan dalam karya fiksi seperti film dan serial TV, dan sering dikaitkan dengan atau digunakan sebagai plot twist.

Terjun dalam dunia politik memang harus siap ketika ditinggalkan teman sejalan dan seperjuangan. Dalam kasus Megawati dan Jokowi ini apakah bisa disebut penghianatan? 

Elit-elit PDIP rame-rame teriak penghianatan. Mereka kesal ketika Jokowi merestui anaknya, Gibran Rakabuming Raka maju sebagai cawapres bersama Prabowo. 

Gaduh soal Gibran memang berawal dari putusan MK yang memperbolehkan usia di bawah 40 tahun maju sebagai capres-cawapres. Apalagi, Ketua MK Anwar Usman adalah paman dari Gibran.  

Mega memang belum bicara ke publik soal majunya Gibran. Tapi kalau dilihat dari para elit PDIP yang teriak, bisa dipastikan kalau Mega sudah marah karena merasa dihianati.

Harus Tabayun 

Pada 2004 terjadi keretakan antara Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dengan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang saat itu menjabat sebagai Menko Polkam dalam Kabinet Gotong Royong.

SBY dianggap mengkhianati Megawati dengan maju sebagai capres berpasangan dengan Jusuf Kalla. Sebelumnya, SBY sudah melayangkan pengunduran diri sebagai Menko Polkam kepada Megawati.

Keretakan berbalut pengkhianatan itu diprediksi juga terjadi dengan Joko Widodo dengan megawati di Pilpres 2024.

Direktur Eksekutif Sentral Politika, Subiran Paridamos mengamati, hubungan Megawati dengan Jokowi akan retak akibat tidak satu komando mendukung bakal pasangan calon presiden dan wakil presiden Koalisi PDIP, Ganjar Pranowo-Mahfud MD.

Sebaliknya, Jokowi malah memajukan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka menjadi bakal calon wakil presiden Prabowo Subianto.

Dia memandang, Jokowi dan juga Gibran berhasil di dunia politik setelah bergabung menjadi kader PDIP, dan mendapat dukungan menang sebagai Wali Kota Solo. Namun, menghadapi Pilpres 2024 arah politiknya berseberangan.

"Saya menduga, itu (keretakan) terjadi jika presiden Jokowi tidak bertabayyun dengan Megawati terkait Gibran ini sampai selesai Pilpres 2024," ujar Subiran kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (27/10).

Dia memprediksi, akibat sikap politik yang berseberangan serta manuver politik yang tak wajar dilakukan Jokowi melalui politisasi lembaga peradilan, berpotensi mengulang ketegangan politik antara Megawati dan SBY.

Ketegangan politik antara Megawati dan SBY terjadi lantaran ada persaingan di Pilpres 2004. Pasalnya, muncul dugaan SBY yang sebelum kontestasi masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan di Kabinet Gotong Royong yang dipimpin Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri.

Dengan jabatan Menteri tersebut, Megawati mencurigai SBY menggunakan fasilitas negara untuk membentuk Partai Demokrat, termasuk dalam hal suksesi pemenangan Pilpres kala itu.

Hal serupa, menurut Biran juga terjadi di Pilpres 2024 ini, dimana Jokowi yang terpilih sebagai Presiden ketujuh RI karena dukungan dan usungan PDIP, juga diduga memanfaatkan jabatannya beserta suprastruktur kenegaraan.

"Maka dari itu, hubungan Megawati dan Jokowi akan mengulang hubungan yang tidak harmonis antara Megawati dan SBY. Yakni politik tidak saling tegur dan tidak saling bicara," demikian Biran menambahkan.