Rabu,  20 January 2021

Ada Nenek 73 th Jadi PSK, Kapan Bu Mesos Blusukan Ke Daerah?

SN
Ada Nenek 73 th Jadi PSK, Kapan Bu Mesos Blusukan Ke Daerah?
Hima Persis Santuni Pemerlu Kesejahteraan Sosial

RADAR NONSTOP - Ironis, kemalangan nasib bisa menimpa siapa saja. Seperti halnya seorang nenek berusia 73 tahun di Kota Tasikmalaya yang demi memenuhu kebutuhan hidup, ia mesti menjajakan diri tengah malam menjadi seorang pekerja seks komersil (PSK).

Pengurus Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (Hima Persis) Tasikmalaya Raya, Iqbal Sabiqul Aqdam mengatakan, dalam agenda sosial Hima Persis Beri Nasi (Hibernasi) yang rutin pihaknya lakukan setiap minggu malam, ia mendapati seorang perempuan tua yang tengah duduk didepan sebuah toko di Kota Tasik. Menurut penelusurannya, sudah 3 tahun si nenek menjadi PSK.

“Setiap Malam Senin, kami terjun ke pusat Kota Tasikmalaya membagikan nasi. Singkat cerita, kami temukan nenek ini yang menurut keterangan warga sekitar sudah hampir tiga tahun bekerja menjajakan diri. Bahkan, ironisnya tarif paling murah bisa hanya dengan Rp 5 ribu saja untuk sekali kencan," tutur Iqbal kepada wartawan, Rabu (6/1/2021).

BERITA TERKAIT :
Perusahaan Penyedia Bansos Mulai Ketar-Ketir
Ada 'Tanah Suci' Di Ciamis, Warga Yang Nekad Gali Tanah Bisa Dikutuk

Lebih lanjut Iqbal mengatakan, disamping memberi nasi bungkus bagi masyarakat yang mengalami persoalan kesejahteran tersebut, kegiatan yang sudah berjalan selama setahun itu juga ia gunakan sebagai momentum advokasi sosial. Menurutnya, selama ini pihaknya banyak menemukan persoalan sosial yang cukup mengkhawatirkan di Kota Tasik terjadi malam hari.

"Kegiatan ini rutin kami laksanakan setiap malam senin, malam senin kemarin (3/1), selain masyarakat lainnya, kami temui juga nenek (PSK) itu. Kami kasih juga sebungkus nasi. Bukan hanya bagi-bagi nasi, kita juga advokasi masalah sosial ini, siangnya kami koordinasi ke Dinas Sosial Kota Tasik," ungkapnya.

Disinggung mengenai kegiatan Menteri Sosial (Mensos) RI yang belakangan rutin melakukan blusukan di Jakarta, Iqbal berharap Mensos juga turun ke daerah guna melihat permasalahan sosial di daerah yang menurutnya sama-sama mengkhawatirkan.

Iqbal mengaku, selama ini kegiatan sosial yang pihaknya lakukan murni menggunakan anggaran swadaya dari mahasiswa.

"Masalah tunawisma coba Bu Risma jangan hanya di Jakarta, ke daerah lah, lihat kenyataan di daerah, lihat malam-malam gimana kehidupan mereka. Benar-benar tinggal di emperan toko, ada yang dekat gundukan sampah, bikin saung. Nenek itu tidurnya di gang, depan toko," tuturnya.

"Kami harap jangan hanya di Jakarta, kami yakin daerah lain pun sama, bahkan bisa jadi lebih membutuhkan, hanya saja sebaiknya juga Bu Mentri buatkan sistem pembenahan masalah sosial itu agar warga yang benar benar tunawisma yang terbantu," paparnya.

Disamping itu, Iqbal mengungkapkan pihaknya berharap kegiatan serupa dilakukan juga oleh pihak-pihak lain. Ia menyebut, masa pandemi bukan berarti berhenti untuk berbagi. Bahkan, saat krisis seperti ini, ucap Iqbal, kemanusiaan kita diuji.

"Semua merasakan krisis gegara pandemi ini, tapi bukan alasan juga berhenti berbagi. Kami harap, yang lainnya bisa (mengikuti). Kalau kami sementara ini baru bisa berbagi nasi dan advokasi," tutupnya.