Selasa,  25 January 2022

Relawan Kesehatan

WNA Masuk Indonesia Tanpa Karantina Blunder, Oknum Petugas Tergiur Duit Sogok? 

NS/RN
WNA Masuk Indonesia Tanpa Karantina Blunder, Oknum Petugas Tergiur Duit Sogok? 
Ilustrasi

RN - Program vaccinated travel lane (VTL) dinilai bisa blunder. Karena masuknya warga asing tanpa melakukan  karantina bisa memicu ledakan Corona.

Hal ini ditegaskan Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia. Melalui siaran persnya, Agung Nugroho, Ketua Nasional Rekan Indonesia meminta pemerintah mempertimbangkan kembali rencana membebaskan warga negara asing (WNA) masuk Indonesia tanpa karantina tersebut. 

Agung mengatakan, meski ada syaratnya seperti menunjukkan hasil negatif melalui tes RT-PCR di negara asal yang sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 3 x 24 jam sebelum jam keberangkatan. Lalu saat kedatangan, dilakukan tes ulang RT-PCR bagi pelaku perjalanan internasional dan diwajibkan menjalani karantina terpusat selama 5 x 24 jam.

BERITA TERKAIT :
Menko Airlangga Ungkap 3 Kebijakan Pemerintah Untuk Gelar Event Internasional
Berjalan Lancar, Wagub Ariza Sebut Vaksinasi Booster di DKI Capai 296.486

Apalagi kata Agung, capaian Indonesia terhadap warga yang sudah tervaksinasi masih kurang dari 50%, sehingga akan berisiko besar jika rencana WNA masuk ke Indonesia tanpa karantina ini dijalankan. 

"Nantilah kalau capaian vaksinasi di Indonesia sudah mencapai 90% baru bisa bebas, itu pun dengan syarat yang ketat mengingat virus corona belum punah" kata Agung. 

Belum lagi menurut Agung, penegakan syarat dan aturan di Indonesia masih rawan karena adanya oknum petugas yang masih bisa berlaku abai dengan diberi sedikit uang.

"Jadi meski dibuat aturan seketat apapun dengan perilaku oknum petugas mudah disogok akan menambah besar resiko kita menghadapi rantai penularan" ungkap Agung. 

Agung berharap pemerintah bisa mewujudkan tidak terjadinya ledakan gelombang ketiga penularan covid 19 dengan bersabar dan berhati-hati dalam menerapkan kebijakan. 

"Jangan sampai hanya demi kepentingan geliat ekonomi, lalu kita lengah dan mengorbankan kepentingan kesehatan" ingat Agung.