Rabu,  30 November 2022

Serangan Buzzer Ke Anies Gak Ngaruh, Makin Dibully Makin Terbang  

NS/RN
Serangan Buzzer Ke Anies Gak Ngaruh, Makin Dibully Makin Terbang  

RN - Anies Baswedan kerap menjadi sasaran bully para buzzer. Hampir setiap hari, Gubernur DKI Jakarta itu selalu dicari-cari kesalahannya.

Tapi, bully buzzer napaknya tidak ampuh lagi. Sebab, dukungan publik terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk pencapresan mengalami peningkatan sepanjang paruh pertama 2022. 

Temuan survei Polmatrix Indonesia menunjukkan Anies berhasil rebound dan terus naik hingga unggul dalam bursa calon presiden.

BERITA TERKAIT :
Jakarta Banjir Rob, Buzzer Kok Diem Aja Ya 
Natalie Holscher Panen Bully, Dari Tudingan Selingkuh Hingga Numpang Hidup 

Dengan elektabilitas mencapai 20,8 persen, Anies mengungguli dua tokoh yang sebelumnya merajai peringkat pertama dan kedua. Prabowo Subianto kini menempati urutan kedua dengan elektabilitas 19,3 persen, disusul Ganjar Pranowo sebesar 18,8 persen.

Jika dibandingkan dengan survei pada Maret 2022, nama-nama yang menguasai enam besar capres mengalami penurunan elektabilitas, kecuali Anies. Bisa dikatakan, Anies memperoleh limpahan dukungan dari pemilih capres-capres potensial yang bakal berlaga pada Pilpres 2024.

“Berkat limpahan pemilih, elektabilitas Anies berhasil mengungguli baik Prabowo maupun Ganjar dalam bursa capres,” ungkap Direktur Eksekutif Polmatrix Indonesia Dendik Rulianto, Ahad (26/6/2022).

Menurut Dendik, melejitnya nama Anies tidak lepas dari dukungan yang diberikan sejumlah partai politik untuk mengusung sebagai capres. Misalnya, gelaran rakernas Nasdem yang memunculkan nama Anies di antara sejumlah nama yang diusulkan dari daerah-daerah.

Partai-partai yang lain pun menunjukkan arah dukungan terhadap Anies, seperti PKS, PPP, dan PAN. Menguatnya Anies juga membuka kemungkinan terbentuknya poros koalisi yang diinisiasi Nasdem, di luar poros PDIP maupun Koalisi Indonesia Bersatu (KIB).

Ganjar yang masih harus berjuang untuk bisa mendapatkan tiket capres dari internal PDIP cenderung mengalami stagnasi dalam setahunan terakhir. Demikian pula dengan Prabowo yang elektabilitasnya relatif stabil, belum ada tanda-tanda kenaikan secara signifikan.

Sementara itu pada klaster di bawah tiga besar, dua nama cenderung turun elektabilitasnya dalam setahun terakhir, yaitu Ridwan Kamil (6,8 persen) dan Sandiaga Uno (5,5 persen), disusul oleh Agus Harimurti Yudhoyono yang relatif stabil (4,3 persen).

“Anies kini berkembang menjadi figur alternatif kepemimpinan nasional, dengan mengalirnya dukungan dari pemilih moderat,” jelas Dendik. Anies tampak berusaha untuk meninggalkan citra sebagai bapak politik identitas yang kental disandang sejak Pilkada DKI Jakarta pada 2017.

Jika strategi tersebut makin digencarkan oleh Anies dan pendukungnya, bukan tidak mungkin Anies menjadi magnet bagi partai-partai politik untuk memberikan tiket capres. “Partai-partai tersebut berharap bisa mendapatkan coattail effect dengan mencapreskan Anies,” lanjut Dendik.

Nama-nama berikutnya dalam bursa capres adalah Erick Thohir (4,1 persen), Khofifah Indar Parawansa (2,7 persen), dan Tri Rismaharini (2,4 persen). Lalu Puan Maharani (1,8 persen), Airlangga Hartarto (1,3 persen), dan Andika Perkasa (1,2 persen).

Selain itu ada Mahfud MD (1,1 persen) dan Susi Pudjiastuti (1,0 persen). Nama-nama lainnya memiliki elektabilitas di bawah 1 persen, dan sisanya menyatakan tidak tahu/tidak jawab sebanyak 8,4 persen.

Survei Polmatrix Indonesia dilakukan pada 16-21 Juni 2022 kepada 2.000 responden mewakili 34 provinsi. Metode survei adalah multistage random sampling (acak bertingkat) dengan margin of error survei sebesar ±2,2 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen.