Sabtu,  13 April 2024

Kang Emil Cuma Dijadikan Alat Buat Dongkel Airlangga 

RN/NS
Kang Emil Cuma Dijadikan Alat Buat Dongkel Airlangga 

RN - Ridwan Kamil alias Kang Emil ternyata hanya bakal dijadikan alat dongkel. Gubernur Jawa Barat itu tidak akan masuk lagi ke bursa Pilpres 2024.

Pasalnya, lewat Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar 2019 lalu, mereka telah memutuskan untuk mengusung Airlangga Hartarto sebagai capres.

Terlebih, Menko Perekonomian itu merupakan Ketua Umum Partai Golkar, sehingga tiket menuju Pilpres 2024 memang sudah berada di tangan. Kini, Emil lebih banyak ditargetkan untuk kembali memimpin Jawa Barat atau hijrah memimpin DKI Jakarta.

BERITA TERKAIT :
Prabowo-Airlangga Diskusi Serius, Utak-Atik Soal Calon Menteri? 
Baco Dielus Jadi Wakil Ketua DPRD DKI, Putra Bamsoet Bisa Melenting?

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Jawa Barat, Ace Hasan Syadzily mengatakan, mereka tentu mempertimbangkan secara seksama posisi Emil. Terutama, terkait penugasan yang diberikan Partai Golkar ke Emil sebagai Gubernur Jabar.

Tentu, lanjut Ace, ada mekanisme di internal Partai Golkar untuk menentukan calon. Mulai elektabilitas maupun kinerja Ridwan Kamil sebagai Gubernur Jawa Barat. Apalagi, Emil sudah diamanahkan sebagai Waketum Penggalangan Pemilih.

"Secara spesifik Kang Emil akan diminta melakukan penggalangan pemilih, terutama generasi muda," kata Ace, Kamis (19/1).

Hal itu, lanjut Ace, dikarenakan potensi besar Ridwan Kamil selama ini telah berpengalaman melakukan penggalangan terhadap pemilih yang dinilai begitu kaya. Ia berharap, pengalaman tersebut akan menjadi amunisi baru bagi Partai Golkar.

Bahkan, Ace menegaskan, tidak cuma sebagai amunisi di Jawa Barat, tapi di seluruh daerah di Indonesia. Termasuk, ia menambahkan, pengalaman Ridwan Kamil dalam menggalang kekuatan di media sosial, terutama kekuatan generasi muda.

Untuk Pilpres 2024 mendatang, Partai Golkar sendiri sudah memiliki koalisi di Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) bersama PPP dan PAN. Menurut Ace, untuk KIB terdapat mekanisme tersendiri dalam menentukan capres dan cawapres.

"Kalau soal capres-cawapres sudah ada dalam munas, sebagai kader harus ikut dalam keputusan munas," ujar Ace.