Kamis,  29 February 2024

Inilah, Modus Makelar Politik Untuk Rongrong Duit Caleg

RN/NS
Inilah, Modus Makelar Politik Untuk Rongrong Duit Caleg
Ilustrasi

RN - Semboyan ada duit, abang disayang ternyata bukan isapan jempol. Menjelang pemilihan umum yang akan digelar pada 14 Februari 2024 banyak caleg mulai pusing.

Mereka mulai kena rongrong para makelar politik. Dengan berbagai alasan, para makelar berharap duit kepada caleg. 

"Berat setiap hari ada aja yang minta. Pasang spanduk, ngaku anaknya sakit hingga buat bayaran sekolah," keluh caleg di DKI yang namanya enggan disebutkan, Minggu (03/12). 

BERITA TERKAIT :
Suara Wakil Ketua DPRD DKI Anjlok, Rany Bisa Keok Lawan Inggard Joshua 
Calon Pimpinan DPRD DKI, Ada Wajah Lama Hingga Politisi Sultan 

Ironisnya kata si caleg, makelar-makelar itu bukan hanya mendukung satu calon tapi banyak calon. "Kiri kanan dapat duit itu makelar. Jago klaim semua," tukasnya.

Pengamat politik Adib Miftahul menilai, sikap makelar politik itu biasa terjadi setiap hajatan pemilu dan pilkada. "Motofnya duit dan duit. Namanya tukang olah," ungkapnya. 

Tapi Adib mengaku para makelar itu merongrong caleg hal yang wajar. Karena, si makelar atau korlap berpikir singkat. "Kalau sudah jadikan si caleg lupa, jadi sebelum jadi ya diolah," beber Adib. 

Adib menyarankan kepada warga agar tidak mudah kena bujuk rayu makelar dan caleg. "Misalnya ada caleg ke warga, tanya aja kami dapat apa kalau coblos Anda?," sarannya. 

KPU DKI Jakarta sudah menetapkan daftar caleg tetap atau DCT. Jumlahnya untuk  caleg DPRD DKI Jakarta yakni 1.818. 

Dari jumlah itu terdiri dari 1.167 laki-laki dan 651 perempuan. 1.818 caleg itu akan memperebutkan 106 kursi DPRD DKI Jakarta di Kebon Sirih.

Seorang makelar politik di Jakarta inisial JI mengaku, dirinya memang kerap meminta duit ke caleg. "Biasanya kita minta buat kebutuhan tim dan pasukan di bawah," bebernya. 

Dia meminta lantaran banyak caleg yang cuma jani doang. "Lha kalau ada anak sakit, bantuan bayaran sekolah, minta dibikinin jalan hingga bantuan lainnya ya kami minta ke caleg dong," tegas JI. 

Saat ditanya apakah mendapat lebih, JI tidak membantah. "Kalau lebih adalah sedikit-dikit. Masa kita gak ada duit rokok sih," tukasnya. 

JI mengakui setiap musim pemilu dirinya selalu membeli motor baru. "Saya kumpulkan, duitnya buat beli motor bisa juga mobil," bebernya sambil tertawa. 

Yang besar kata dia, saat caleg minta fotocopy KTP. "Kalau gak jelikan KTP bisa dioper sana-sini. Yang penting dapat duit ajalah, kalau gak punya duit jangan nyaleg dong," ucapnya. 

Walau oportunis, JI tidak semua caleg dia duitkan. "Kalau berpeluang jadi biasanya saya gak merongrong. Buat investasi aja, kalau jadikan bisa buat cantolan saya ke depan," tambahnya.

JI melanjutkan, jika caleg jadi DPRD DKI Jakarta dirinya biasa meminta fasilitas seperti pengelolaan dana reses dan proyek pokok pikiran alias pokir. 

Sebagai informasi, dalam jadwal yang tertuang di Pera­turan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 3 Tahun 2022 tentang Tahapan dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Umum Tahun 2024, pemungutan suara Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) akan digelar pada 14 Februari 2024. Sementara, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 akan digelar pada 27 November 2024.

Inilah modus makelar untuk minta dana ke caleg: 

- Fotocopy KTP 
- Biaya Pasang Atribut 
- Operasional Tim 
- Babtuan Istri/Anak Sakit 
- Bayaran Sekolah 
- Bantuan Warga 
- Bentuk Timses
- Biaya Cetakan Atribut
- Honor Saksi TPS
- Biaya Koordinator Lapangan (Korlap)
- Biaya Pertemuan Warga