Senin,  07 April 2025

PM Singapura Sebut Ancaman Krisis Dunia Dampak Tarif Donald Trump

RN/NS
PM Singapura Sebut Ancaman Krisis Dunia Dampak Tarif Donald Trump
PM Singapura Lawrence Wong dan istri.

RN - Tarif yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump dapat memicu krisis ekonomi dunia. Sebab ada ketidakpastian dunia dan membuat rentan ekonomi global.

Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong menilai tarif resiprokal yang dikeluarkan Presiden AS Donald Trump dapat memicu krisis ekonomi dunia.

Dengan dampak tarif yang ditetapkan AS ini, Wong memandang ketidakpastian dunia akan lebih tinggi dan negara lain bisa lebih sulit terhadap rantai ekonomi global. Bukan hanya itu, perdagangan internasional dan investasi juga bakal ikut menderita.

BERITA TERKAIT :
Rupiah Mulai Limbung, Tenang Prabowo Pasti Bergerak Selamatkan Ekonomi 

"Perdagangan internasional dan investasi akan menderita, dan pertumbuhan global akan melambat," ujar Wong, melalui kanal YouTube pribadinya, seperti dikutip Sabtu (5/4/2025).

Meskipun Singapura mendapat genderang tarif dari AS yang lebih rendah, yakni 10 persen. Tetapi, menurut Wong, Singapura bakal menerima pukul yang lebih besar dibanding negara lain, sebab negara tersebut sangat bergantung pada perdagangan.

"Lebih banyak negara akan bertindak berdasarkan keinginan diri mereka sendiri dan menggunakan kuasa atau tekanan untuk mendapatkannya. Ini adalah realitas dunia kita saat ini. Kita akan tetap berhati-hati," lanjut dia.

Lebih lanjut, Singapura merespons kebijakan tarif Trump ini dengan tidak membalas dengan tarif retaliasi. Retaliasi adalah tindakan pembalasan atau konsekuensi yang dilakukan sebagai akibat dari suatu pelanggaran atau kerugian.

Di bawah pemerintahan Wong, Singapura bakal membangun kembali kekuatannya dan memperkuat jaringan pertemanan dengan negara yang dianggap Wong sama.

"Keamanan dan stabilitas global yang kita tahu tidak akan kembali segera. Kita tidak bisa mengharapkan bahwa peraturan yang melindungi negara kecil akan tetap bertahan," terang Wong.

Menurutnya, saat ini dunia sudah memasuki fase yang lebih menantang dan berbahaya.

Selama bertahun-tahun, AS merupakan pasar untuk ekonomi bebas di dunia dengan pendekatan multilateral yang diisyaratkan World Trade Organization (WTO). Namun, kini Wong berpendapat AS telah mengabaikan sistem yang sudah ditetapkan WTO ini.

Singapura menilai memang sistem perdagangan bebas lewat framework multilateral ini tidak sempurna dan telah meminta ubah peraturan dan membuat sistem lebih baik.

"Tetapi apa yang AS lakukan sekarang bukan reform. AS mengabaikan seluruh sistem yang telah diciptakan. Tarif resiprokal, negara demi negara, merupakan penolakan sepenuhnya framework WTO," ungkap Wong.

Dalam kesempatannya, PM Singapura itu mengimbau negara lain agar tak mengikuti jejak AS ihwal tarif resiprokal impor. Katanya, itu akan menyebabkan masalah bagi semua negara terutama negara kecil seperti Singapura.

"Kita berisiko dihapus, dimarginalisasi, dan tertinggal. Kita juga bisa mengharapkan respons global yang kuat terhadap tarif AS," lanjut Wong.

Sementara JP Morgan, perusahaan jasa keuangan multinasional yang bergerak di bidang perbankan, investasi, dan manajemen aset menilai potensi AS terkena resesi semakin besar dengan adanya kebijakan tarif baru ini. 

Kepala ekonom global JP Morgan Bruce Kasman memiliki pandangan suram terhadap kebijakan tarif agresif Presiden Trump. Dia mengatakan akan ada pertumpahan darah akibat kebijakan Trump tersebut.

Dalam catatan penelitian kepada klien yang diterbitkan pada Kamis (3/4/2025), Kasman memperingatkan risiko ekonomi global jatuh ke dalam resesi telah meningkat dari 40 persen menjadi 60 persen sebagai respons terhadap pengumuman kebijakan tarif pada Rabu (2/4/2025) lalu.

"Kebijakan AS yang disruptif telah diakui sebagai risiko terbesar bagi prospek global sepanjang tahun," ujar Kasman, berdasarkan riset JP Morgan, seperti dikutip dari Business Insider, Sabtu (5/4/2025).

"Berita terbaru memperkuat kekhawatiran kami karena kebijakan perdagangan AS telah berubah secara drastis menjadi kurang bersahabat bagi bisnis daripada yang kami perkirakan," tambahnya.

Para ekonom raksasa perbankan itu menggambarkan tarif 'pada tingkat dasar' sebagai peningkatan pajak fungsional atas pembelian barang impor oleh rumah tangga dan bisnis AS.

Mereka juga mengatakan bahwa peningkatan biaya impor yang disebabkan oleh rencana tarif Trump diperkirakan akan mengakibatkan harga yang lebih tinggi untuk segala hal mulai dari bahan pokok hingga pakaian dan pembelian yang lebih besar seperti mobil serta peralatan.

Analis JP Morgan mendapati bahwa pengumuman minggu ini, menyusul kenaikan tarif sebelumnya, menaikkan tarif pajak rata-rata AS 'sekitar 22 persen poin menjadi sekitar 24 persen', setara dengan sekitar 2,4 persen dari total nilai semua barang dan jasa yang diproduksi di negara tersebut.

"Kenaikan sebesar ini akan setara dengan kenaikan pajak terbesar sejak Perang Dunia II. Dampaknya dapat diperbesar melalui pembalasan, penurunan sentimen bisnis AS, dan gangguan rantai pasokan," ungkap riset JP Morgan.

"Oleh karena itu, kami menekankan bahwa kebijakan ini, jika dipertahankan, kemungkinan akan mendorong ekonomi AS dan mungkin global ke dalam resesi tahun ini. Pembaruan pohon skenario probabilitas kami menegaskan hal ini, meningkatkan risiko resesi tahun ini menjadi 60 persen," lanjut riset tersebut.

Namun, resesi nasional atau global bukanlah suatu kesimpulan yang sudah pasti, ekonom JP Morgan menawarkan sebagai hikmah positif yang mungkin bisa dipetik.

"Di luar poin yang jelas bahwa tindakan kebijakan dapat diubah dalam beberapa minggu mendatang, kami terus menekankan bahwa ekspansi AS dan global berdiri kokoh dan harus mampu menahan guncangan berukuran sedang," ujar riset JP Morgan.

Meski begitu, untuk saat ini, para ekonom JP Morgan memandang implementasi penuh dari kebijakan yang diumumkan sebagai guncangan ekonomi makro yang substansial dan dapat menjadi guncangan ekonomi yang tidak mudah untuk diatasi, jika kebijakan Trump terus berlanjut.

Sebelumnya pada Rabu lalu, Trump resmi mengumumkan tarif besar sebesar 10 persen pada barang-barang dari negara mana pun yang diekspor ke AS dan tarif yang lebih tinggi lagi untuk 60 negara mitra dagang AS, dengan defisit perdagangan terus-menerus dengan AS.