Jumat,  17 September 2021

Puji Puan Maharani Tapi Politisi Banteng Ini Sebut Yang Idolakan Gibran 'Kebanyakan Micin' 

NS/RN/NET
Puji Puan Maharani Tapi Politisi Banteng Ini Sebut Yang Idolakan Gibran 'Kebanyakan Micin' 

RN - Gibran Rakabuming Raka memang lagi naik daun. Banyak tokoh nasional yang menemui Wali Kota Solo itu. 

Wajar jika Gibran banyak mendekat. Sebab, disebut-sebut sebagai penerus politik Jokowi. 

Tapi, penilaian berbeda dikatakan oleh politikus senior PDIP, Effendi Simbolon. Dia menyebut Gibran adalah sosok yang instan di politik. Meski instan, namun sosoknya diidolakan oleh orang-orang yang 'kebanyakan micin'.

BERITA TERKAIT :
Di Jateng, Puan Dibela Wali Kota Semarang, Kok Mas Ganjar Gak Ikut Bela? 
NU DKI Dorong Gibran, PDIP & PSI Kalah Start 

Penilaian ini disampaikan Effendi Simbolon dalam diskusi Polemik bertajuk 'Senjakala Regenerasi Parpol', disiarkan Radio Trijaya FM, Sabtu (27/3/2021).

Awalnya, Effendi menjawab pertanyaan tuan rumah diskusi ini soal perbandingan Puan Maharani dan Gibran Rakabuming Raka. Nama pertama adalah putri Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, kini Ketua DPR, pernah pula menjadi anggota DPR dan menteri. Nama kedua merupakan putra Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang kini menjadi Wali Kota Solo.

Effendi secara terang-terangan mendukung Puan. Dia menyatakan Puan bukanlah politikus instan karena sudah puluhan tahun menapaki jalan politik.

"Akan berbeda kalau Gibran. Gibran ya nyata jelas lah instan, fast growing begitu ya," kata Effendi.

Namun, sosok politikus instan memang lumrah di Indonesia. Dia mengamati warga Indonesia juga mengidolakan sosok instan.

"Jadi ya antara lucu dan tidak lucu, di Indonesia ini sering terjadi dan akhirnya diidolakan. Jadi memang alam pikir kita kacau jadinya, kayak kita makan R** (menyebut merek) kebanyakan, banyak migrain. Otak itu jadi migrain. Kebanyakan micin jadinya, kita nggak bisa normal berpikirnya," tutur Effendi.

Sosok politikus instan dianalogikannya seperti anak SD yang tiba-tiba menjadi dosen dan akhirnya menjadi rektor universitas. Ketika ada yang mempermasalahkan ke-instan-an ini, maka sosok instan tersebut akan bertanya balik.

"Lho kamu kan baru SD? Ya, kenapa? Apa yang salah? Lha itu kan repot," ujar Effendi.