Minggu,  25 July 2021

Di India Mayat Sudah 'Berserakan', Menkes Budi Sebut Ada Tiga Varian Baru Corona 

NS/RN/NET
Di India Mayat Sudah 'Berserakan', Menkes Budi Sebut Ada Tiga Varian Baru Corona 
Corona di India.

RN - Tsunami Corona di India membuat dunia mencekam. Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan ada tiga varian yang bahaya. 

Variant of concern tersebut yaitu varian B117 di Inggris, B1351 di Afrika Selatan, dan P1 di Brasil.

"Mutasi virus ini sering dan banyak sekali. Tetapi, yang berbahaya ada tiga yaitu B117 di London (Inggris), B1351 di Afrika Selatan, dan P1 di Brasil," jelas Menkes Budi dalam konferensi pers, Jumat (23/4/2021).

BERITA TERKAIT :
PPKM Tangsel Seperti Tak Berlaku, Posko Penyekatan Kosong Dan Kafe Tetap Ramai 
Yang Parah Jakbar & Jaktim, Tapi Yang Banyak Meninggal Saat Isoman Di Jakpus 

"Ini yang benar-benar berbahaya dan menyebarnya sangat cepat sekali di seluruh dunia," lanjutnya.

Ketiga varian baru Corona ini memang direkomendasikan WHO agar mendapatkan perhatian yang serius dari negara-negara di dunia. Salah satu dari varian berbahaya tersebut sudah teridentifikasi masuk ke Indonesia sejak Januari lalu, yaitu B117.

Untuk itu, Menkes Budi meminta agar semua pihak selalu berhati-hati dalam mengamati laju penularan kasus. Selain itu, terus mematuhi protokol kesehatan serta mendukung jalannya program vaksinasi di Indonesia.

"Kita harus berhati-hati, mempercepat program vaksinasi, menjalankan protokol kesehatan untuk memastikan saat nanti variant of concern B117 makin besar porsinya, kita siap," tegasnya.

Tsunami Corona

Sementara Gelombang tsunami COVID-19 di India kian parah. Penambahan kasus harian terus mencetak rekor dunia berturut-turut, dengan data terbaru mencatat ada 346.786 pasien COVID-19 baru pada Sabtu (24/4/2021).

Korban meninggal bisa mencapai 2.624 orang dalam sehari. Diprediksi di Ibu Kota Delhi saja bisa ada satu orang meninggal karena COVID-19 setiap lima menit.

Begitu banyaknya mayat yang bergelimpangan di India sampai-sampai layanan penguburan dan kremasi kewalahan.

Seorang warga Delhi, Nitish Kumar, mengaku kesulitan mencari tempat kremasi untuk ibunya yang sudah meninggal karena COVID-19. Ia terpaksa membiarkan jenazah sang ibu selama dua hari di rumah.

Sampai pada akhirnya Kumar menemukan tempat kremasi massal darurat di lapangan parkir. Di sana orang ramai-ramai membakar jenazah dengan tumpukan kayu.

"Saya berlari mencari pilar, tapi setiap krematorium berasalan... salah satunya bilang kehabisan kayu," kata Kumar seperti dikutip dari ABC.

Jitender Singh Shunty dari organisasi nirlaba medis Shaheed Bhagat Singh Sewa Dal mengatakan pada hari itu ada 60 jenazah yang dibakar di lapangan. Jenazah yang dibakar mulai dari pasangan baru menikah, anak-anak 15 tahun, bahkan sampai balita.

"Anak lima tahun, 15 tahun, 25 tahun semuanya dikremasi. Ada juga pasangan yang baru menikah. Sangat sulit disaksikan," pungkasnya.