Selasa,  25 January 2022

PDIP Lawan Demokrat, Kubu AHY Sindir Hasto Kalah Dengan Ibas Saat Jadi Caleg 

NS/RN
PDIP Lawan Demokrat, Kubu AHY Sindir Hasto Kalah Dengan Ibas Saat Jadi Caleg 

RN - Gaduh elit PDIP dengan Demokrat berlanjut. Kali ini elite Partai Demokrat, Andi Arief balik menyerang Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

Dalam cuitannya di Twitter seperti dikutip Selasa (2/11/2021), Andi Arief menyinggung pertarungan politik Hasto. Menurut Andi Arief, Hasto bahkan terjungkal melawan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas.

"Hasto sekjen PDIP melawan Mas Ibas @Edhie_Baskoro di dapil 7 Jatim saja terjungkal dan gagal ke senayan, kini ingin menyamakan dirinya atau mensejajarkan dirinya dengan elite politik nasional berpengalaman," kata Andi Arief.

BERITA TERKAIT :
Tagar SundaTanpaPDIP Trending, PDIP Jangan Ngarep Menang di Jawa Barat
Selain Bikin Ekonomi Anjlok, Demokrat Prediksi Kepindahan IKN Tak Kurangi Polusi dan Kemacetan Jakarta

Andi Arief menyinggung soal ciri-ciri orang kalah. Menurutnya, ada saja tudingan dari pihak yang kalah.

"Orang kalah sering beralasan curang atau kurang logistik," kata Andi Arief.

Pernyataan terbaru Hasto Kristiyanto soal Presiden ke-6 yang juga mantan Ketum Partai Demokrat SBY yakni soal bantuan sosial atau bansos. Hasto menyebut SBY memainkan politik bansos yang membebani APBN saat di Pemilu 2009.

"Demokrasi yang kini disebut deliberatif demokrasi, musyawarah mufakat yang berkeadilan sosial, coba CSIS menghitung, berapa biaya pemilu kita dari pusat hingga daerah, dan adalah beban bagi APBN, beban bagi keuangan negara. Belum dampak dari politik populism akibat bansos yang kemudian jadi model setelah itu diterapkan pada tahun 2009, dalam politik bansos yang menurut Marcus Mietzner dari bulan Juni 2008 sampai dengan Januari 2009, Pak SBY membelanjakan 2 miliar US dollar untuk politik yang populis itu," kata Hasto.

"Ini kan beban bagi APBN ke depan, akibat dari konsekuensi politik yang sangat liberal," imbuhnya.

Hasto bicara dalam diskusi 'Menimbang Sistem Pemilu 2024: Catatan dan Usulan' yang digelar CSIS, Senin (1/11/2021). Jika dirupiahkan dengan kurs Rp 11.380 ribu/dolar AS (kurs 1 Januari 2009), nilai tersebut setara Rp 22,76 triliun.

Menurut Hasto, politik populis ini membahayakan keuangan negara. Dia menyebut negara-negara Eropa hingga AS mengalami krisis akibat gaya politik populis ini.