Selasa,  05 March 2024

Mirip Di Indonesia, Duterte Vs Marcos Soal Masa Jabatan Presiden Diperpanjang 

RN/NS
Mirip Di Indonesia, Duterte Vs Marcos Soal Masa Jabatan Presiden Diperpanjang 
Duterte (kiri) dan Marcos soal masa jabatan Presiden.

RN - Filipina lagi gaduh. Perselisihan antara mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte dengan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr makin panas. 

Duterte menuding Marcos akan mengubah konstitusi demi menambah masa jabatan Presiden Filipina. Kondisi ini mirip di Indonesia yang sebelumnya beredar isu memperpanjang masa jabatan Presiden.

Dilansir Associated Press, Selasa (30/1/2024), dalam pidatonya yang dipenuhi sumpah serapah pada Minggu (28/1) malam, Duterte menuduh Marcos berencana mengamandemen konstitusi terkait jabatan presiden dengan mencabut batasan masa jabatan.

BERITA TERKAIT :
Real Madrid Dituduh Menang Dibantu Wasit

Duterte juga memperingatkan hal tersebut bisa menyebabkan Marcos digulingkan seperti ayahnya, yang dikenal sebagai diktator, Ferdinand Marcos. Duterte juga menuduh Marcos Jr sebagai pecandu narkoba.

"Anda, militer, Anda tahu ini, kami punya Presiden yang pecandu narkoba," kata Duterte saat pidato di wilayah selatan kota Davao.

Badan Pemberantasan Narkoba Filipina pun membantah tudingan itu. Mereka mengatakan Marcos Jr tidak pernah ada dalam daftar tersebut, bertentangan dengan klaim Duterte.

Pada tahun 2021 saat menjadi calon presiden, juru bicara Marcos menunjukkan dua laporan dari rumah sakit swasta dan laboratorium kepolisian nasional yang menyebutkan Marcos Jr dinyatakan negatif menggunakan kokain dan sabu.

Sebagaimana diketahui, Putri Duterte, Sara Duterte-Carpio, adalah Wakil Presiden Filipina saat ini mendampingi Marcos Jr.

Marcos Jr tertawa mendengar tudingan Duterte itu. Marcos Jr mengatakan dia tidak akan membenarkan tuduhan tersebut dengan memberikan jawaban, namun mengklaim pendahulunya menggunakan fentanyl, opioid yang kuat.

Tentang penggunaan fentanyl ini pernah diakui Duterte pada tahun 2016. Duterte mengatakan pernah menggunakan fentanyl untuk meringankan rasa sakit akibat kecelakaan sepeda motor.

Namun pengacara Duterte, Salvador Panelo, mengatakan Duterte telah berhenti mengonsumsi fentanyl sebelum dia menjadi presiden pada tahun 2016.

"Saya pikir itu karena fentanyl," kata Marcos.

"Fentanyl adalah obat pereda nyeri terkuat yang bisa Anda beli, setelah lima, enam tahun, hal itu pasti berdampak padanya, itulah mengapa menurut saya inilah yang terjadi," imbuhnya.