Senin,  06 February 2023

Ungkap Mitos Monas, Pertemuan Airlangga & Puan Ngeri-Ngeri Sedap

RN/NS
Ungkap Mitos Monas, Pertemuan Airlangga & Puan Ngeri-Ngeri Sedap

RN - Pertemuan Ketum Golkar Airlangga Hartarto dan Ketua DPR Puan Maharani ngeri-ngeri sedap, Sabtu (8/10). Pertemuan di Monas, Jakarta Pusat sepertinya membawa pesan penting.

Pertemuan itu dibarengi dengan acara jalan santai. Di hadapan elit Golkar dan PDIP, Puan membuka sambutannya dengan menyebut Airlangga sebagai kakak.

Puan mengatakan pertemuan di Monas ini merupakan sebuah pertanda. Kata dia, ada mitos bahwa pemimpin yang baik jangan melupakan sejarah. Sebelum Puan sambutan, sempat diceritakan sejarah singkat Monas.

BERITA TERKAIT :
Demokrat & PKS Kapan Dong Deklarasi Resmi Untuk Anies
Belum Deklarasi Resmi, Demokrat & PKS Masih 1/2 Hati Dukung Anies

"Mungkin ini merupakan pertanda bahwa ada Monas. Katanya, mitos mengatakan bahwa pemimpin itu, mitos boleh percaya atau enggak, namanya juga mitos, seorang pemimpin kalau mau jadi pemimpin yang lebih baik lagi jangan pernah lupa dengan sejarah," kata Puan.

Ketua DPR RI ini berharap pertemuan antara PDIP dan Golkar memberikan sebuah manfaat bagi bangsa dan negara.

"Tentu itu jadi pertanda bahwa kami dalam pertemuan ini Insyaallah bisa bermanfaat dan sumbangkan sumbangsih untuk bangsa dan negara, bukan hanya sekarang saja tapi nantinya pun bisa sumbangkan sumbangsih yang baik bagi bangsa negara," kata Puan.

Kenapa Monas?

Masih menjadi misteri kenapa pertemuan Airlangga dan Puan di Monumen Nasional (Monas). Diketahui, Monas adalah merupakan ciri khas DKI Jakarta.

Bangunan bersejarah yang dibangun pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno ini menyimpan berbagai makna di dalamnya, apa saja?

Dilansir dari laman badansertifikasikadindkijakarta.or.id, monumen ini didirikan dengan tujuan untuk mengabadikan kemerdekaan Indonesia dan mengenang jasa serta perjuangan para pahlawan untuk memerdekakan bangsa. Selain itu, tempat ini diharapkan dapat membangkitkan rasa nasionalisme dan patriotisme masyarakat Indonesia.

Monumen ini dibangun sejak Agustus 1959 oleh Soedarsono, Frederich Silaban, dan Ir. Rooseno, para arsitek ulung Indonesia pada masanya. Monas memiliki gaya arsitektur yang khas melambangkan Indonesia dengan tugu yang tegak berdiri dan lidah api yang berlapis emas dipucuknya. Tugu ini menjulang tinggi hingga 132 meter yang setara dengan 44 rumah bertingkat.

Arsitek R. M. Soedarsono menggambarkan Monas sebagai “Lingga dan Yoni” pada rencana pembangunan monumen ini. Lingga dan Yoni merupakan simbol yang menggambarkan kehidupan abadi yang saling melengkapi dari masa lalu.

Dilansir dari laman phdi.or.id, Lingga sebagai simbol energi maskulin dan Yoni sebagai energi feminim. Penyatuan antara keduanya melambangakan kesuburan karena menciptakan generasi selanjutnya.

Lingga yang dicerminkan dengan bangunan yang tinggi hampir mencakar langit dengan bentuk seperti alu. Serta Yoni yang digambarkan dengan cawan di bagian bawah Monas seperti lumpang. Alu dan lumpang ini merupakan alat dapur yang wajib dimiliki masyarakat Indonesia di masa lalu untuk menumbuk bahan olahan makanan, obat, hingga padi dan ketan.

Dilansir dari laman jakarta-tourism.go.id, monumen ini memiliki lidah api di puncak monumen yang menggambarkan semangat perjuangan yang abadi di masyarakat Indonesia. Lidah api ini memiliki tinggi 17 meter yang sama dengan tanggal HUT RI.

Monas memiliki pelataran atas dan bawah, pelataran atas memiliki luas 11 x 11 meter. Sedangkan pelataran bawah memiliki luas 45 x 45 meter. Serta jarak antara lantai sampai ruang bawah tanah sejauh 17 meter. Hal ini selaras dengan tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.