Rabu,  17 July 2024

Gerhana Bulan Total Di DKI, Pemburu Hoki Dan Larangan Ibu Hamil Bisa Bikin Anak Cacat

RN/NS
Gerhana Bulan Total Di DKI, Pemburu Hoki Dan Larangan Ibu Hamil Bisa Bikin Anak Cacat

RN - Gerhana bulan total "Blood Moon"pada Selasa (8/11/2022) menimbulkan cerita mitos. Ada yang menyebut bisa membawa hoki.

Tapi banyak juga yang percaya kalau ibu hamil tidak boleh karena berdampak pada kondisi anak di dalam kandungan.

Sebagian masyarakat menganggap ibu hamil tidak boleh menyaksikan gerhana bulan. Jika ibu hamil tetap melakukannya, dipercaya kelak bayi yang akan lahir mengalami kebutaan atau bibir sumbing.

BERITA TERKAIT :
Wow Banget, Di Akhir Masa Jabatan Wakil Presiden Borong Ambulan
Mempersiapkan Diri Dalam Mengisi Bulan Ramadhan

Oleh karena kepercayaan tersebut, masyarakat yang mempercayai anggapan tersebut menyarankan ibu hamil untuk bersembunyi di kolong tempat tidur selama gerhana berlangsung.

Sementara seorang pedagang grosir dari Sumatera Utara, Sanaf mengaku gerhana bulan total bisa membawa hoki.

"Setiap tahun saya selalu mengejar penampakan gerhana bulan total. Buat hoki dan itu berdasarkan kepercayaan saya saja," ucapnya di kawasan Cikini, Senin (7/11).

Sanaf yang usaha agen grosir klontongan sembako mengaku, omzet-nya selalu naik pasca menikmati gerhana bulan total. "Inikan kepercayaan saja. Boleh percaya boleh tidak," ucapnya.

Gerhana bulan total akan timbul mulai pukul 17.43 WIB atau bertepatan saat bulan terbit.

"Baru dapat disimak fenomenanya mulai pukul 17:43 WIB karena baru saat itulah bulan terbit. Namun, secara garis besar bahwa peristiwa ini dapat disaksikan oleh semua pengamat di wilayah Indonesia," ujar Astronom Planetarium dan Observatorium Jakarta Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki Widya Sawitar dalam keterangannya, di Jakarta, Senin (7/11/2022).

Sedangkan, berdasarkan perhitungan astronomis, lanjut Widya, untuk seluruh wilayah Indonesia dapat menikmati fenomena gerhana bulan total (GBT) pada hari yang sama mulai mulai pukul 15:02:17 WIB hingga 20:56:08 WIB. Secara umum, untuk awam, tahapan GBT pada Selasa yang relatif mudah diamati adalah mulai pukul 16:09:12 WIB sejak bulan masuk bayang-bayang utama atau umbra bumi (titik U1) hingga pukul 19:49:03 WIB (titik U4) atau saat bulan meninggalkan umbra bumi.

Menurut Widya, saat itu tampilan bulan yang seharusnya dalam fase purnama, sebagian menjadi gelap, bahkan menjadi merah tua tatkala seluruh piringan bulan memasuki umbra bumi pada pukul 17:16:39 WIB (titik U2) hingga pukul 18:41:37 WIB (titik U3).

"Deskripsi fenomena di sini berpedoman dengan sekiranya yang dapat disaksikan dari kota Jakarta, termasuk perhitungan waktu kejadiannya yang berbasis waktu wilayah barat (zona +7 atau WIB). Namun, sekali lagi dijelaskan kalau warga Jakarta baru dapat menyaksikan gerhana bulan total secara jelas setelah bulan terbit di ufuk timur pada pukul 17.43 WIB," kata dia.

Rentang waktu prosesnya adalah 5 jam 53 menit 51 detik dan tahap total terjadi selama 1 jam 24 menit 58 detik. Adapun bulan terkena umbra bumi berlangsung selama 3 jam 07 menit 25 detik. Menurut Widya, GBT kali ini kategorinya hanya "Blood Moon", bukan seperti GBT pada 26 Mei 2021 yang kala itu dijuluki sebagai "Super Blood Moon" atau GBT pada 31 Januari 2018 yang dijuluki "Super Blue Blood Moon".

"Kategorinya saat ini hanya 'Blood Moon'. Istilah super karena kondisi terdekat bumi (perigee), 'blue' karena merupakan purnama kedua dalam satu bulan masehi, istilah 'blood' karena warna merah piringan bulan saat tahap total," kata Widya.

Planetarium dan Observatorium Jakarta mengadakan kegiatan peliputan di Lobi Teater Besar dan Plaza Gedung Teater Jakarta dengan tema Piknik Malam Bersama Blood Moon dengan format diskusi santai maksimal kuota peserta 100 orang. Acara tersebut juga disiarkan (live streaming) melalui kanal Youtube Planetarium dan Observatorium Jakarta.

Widya mengatakan GBT pada Selasa (8/11) termasuk dalam kategori seri Saros 136 dan merupakan gerhana ke-20 dari total 72 kali dalam seri tersebut. Dalam hal ini, gerhana seri Saros 136 yang berikutnya (ke-21) akan terjadi kisaran 18 tahun lagi, yaitu tanggal 18 November 2040 dan juga merupakan GBT.

Namun, praktis tidak dapat diamati dari wilayah Indonesia, tetapi hanya sebagian masyarakat Papua masih dapat mengamatinya tetapi hanya Gerhana Bulan Penumbra saja dan biasanya awam sukar membedakan apakah terjadi gerhana atau tidak atau lebih sering tidak menyadari terjadinya gerhana.

Laut Pasang

Dilansir victorynews.id dari lapan.go.id, Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN Andi Pangerang dampak fenomena Gerhana Bulan Total ini terjadi pada pasang surutnya air laut.

Dia menyebut dampak dari Gerhana Bulan Total bagi kehidupan manusia adalah pasang naik air laut.

Di mana pasang naik air laut akan lebih tinggi dibandingkan dengan hari-hari biasanya ketika tidak terjadi gerhana, Purnama maupun Bulan Baru.

Karena itu, masyarakat diminta selalu waspada jika dampak itu benar-benar terjadi, apalagi para nelayan maupun masyarakat di pinggir pantai.

Sebagai informasi, Gerhana Bulan Total yang dapat diamati di Indonesia untuk satu dekade berikutnya akan terjadi pada 8 September 2025, 3 Maret 2026, Malam Tahun Baru 2029, 21 Desember 2029, 25 April 2032 dan 18 Oktober 2032.