Rabu,  17 July 2024

Korut Vs Korsel Tegang, Kom Jong Un Ngamuk Tembak Rudal

RN/NS
Korut Vs Korsel Tegang, Kom Jong Un Ngamuk Tembak Rudal

RN - Kim Jong Un ngamuk. Presiden Korea Utara itu menembakkan sekitar 80 peluru artileri ke zona perbatasan maritim dalam semalam.

Dilansir Reuters, Jumat (4/11/2022), tembakan rudal itu dilakukan ketika menteri pertahanan dari Seoul dan Washington berjanji untuk menunjukkan tekad dalam menghadapi rentetan uji coba rudal oleh Korea Utara.

Sebelumnya Korea Utara telah menembakkan beberapa rudal ke laut pada hari Kamis, termasuk kemungkinan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang gagal. Tindakan itu pun mendorong Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan untuk memperpanjang latihan udara yang telah membuat marah Pyongyang.

BERITA TERKAIT :
Cuitan Warga Korsel Tuai Reaksi, HMI MPO Jaksel Minta Warga Korsel Diusir Di Indonesia
Dengar K-Pop Dieksekusi, Ditembak Mati Di Depan Publik 

Dimulai sesaat sebelum tengah malam pada hari Kamis, militer Korea Selatan mengatakan telah mendeteksi lebih dari 80 peluru artileri yang ditembakkan ke laut oleh Korea Utara, yang dikatakan sebagai pelanggaran perjanjian antar-Korea 2018.

Korea Selatan mengeluarkan komunikasi peringatan ke Korea Utara atas penembakan itu, kata Kementerian Pertahanan Korea Selatan dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, dalam pertemuan di Washington, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin dan Menteri Pertahanan Korea Selatan Lee Jong-sup berjanji untuk mencari langkah-langkah baru untuk menunjukkan "tekad dan kemampuan" aliansi setelah provokasi berulang Korea Utara.

Ketegangan telah meningkat karena Korea Utara telah melakukan sejumlah rekor peluncuran rudal tahun ini, termasuk setidaknya 23 rudal pada hari Rabu saja dan peluncuran ICBM pada hari Kamis. Korea Selatan dan Amerika Serikat juga mengatakan bahwa Korea Utara telah menyelesaikan persiapan teknis untuk menguji perangkat nuklir kapan saja, yang akan menjadi uji coba nuklir pertamanya sejak 2017.

Di sisi lain, Pyongyang telah mengutuk latihan militer sekutu. Pada hari Kamis, Pak Jong Chon, sekretaris Komite Sentral Partai Buruh yang berkuasa di Korea Utara, mengatakan Washington dan Seoul telah membuat keputusan yang sangat berbahaya dengan memperpanjang latihan, dan "mendorong" situasi di luar kendali.