Minggu,  01 August 2021

Ambulance Minim Dan Hasil Tes PCR Lama, Bima Arya Digoyang Kasus Corona 

NS/RN/NET
Ambulance Minim Dan Hasil Tes PCR Lama, Bima Arya Digoyang Kasus Corona 
Bima Arya

RN - DPRD Kota Bogor meradang. Mereka tidak mau warga menjadi korban amburadulnya penanganan Corona. 

Alhasil, para politisi di Kota Hujan itu menyusun kekuatan untuk menggelar interpelasi kepada Wali Kota Bogor Bima Arya. Interpelasi dilakukan terkait dengan penggunaan dana penanganan Covid-19 di Kota Bogor dalam setahun terakhir.

Ketua DPRD Kota Bogor, Atang Trisnanto mengatakan pada rapat Badan Musyawarah (Bamus) DPRD, hari ini, memutuskan bahwa rekomendasi Panitia Khusus (Pansus) Pengawasan Covid-19, berupa poin-poin catatan perbaikan, diteruskan pengawasannya oleh Komisi terkait.

BERITA TERKAIT :
Makan 20 Menit Seperti Kesiangan Makan Sahur, Walkot Bogor Sindir Siapa Nih? 
Warga Bogor Banyak Meninggal Saat Isoman, Gak Dapat RS Apa Karena Vaksin?

Sedangkan usulan hak interpelasi atau hak bertanya, yang merupakan salah satu poin catatan, diserahkan kepada masing-masing anggota sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) maupun Tata Tertib DPRD.

"Hingga Jumat sore, belum ada anggota yang mengajukan usulan hak interpelasi," katanya, Ahad (13/3).

Wacana usulan hak interpelasi muncul setelah Pansus Pengawasan Covid-19 DPRD menyampaikan rekomendasinya kepada pimpinan DPRD. Pada rekomendasi berupa poin-poin catatan tersebut, di antaranya ada rekomendasi untuk menyampaikan usulan hak interpelasi. 

Menurut Atang, DPRD menghargai berbagai upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kota Bogor maupun Satgas Penanganan Covid-19 Kota Bogor dalam melakukan pencegahan dan penanganan Covid-19. "Ada banyak hal yang sudah dicapai, meskipun masih banyak juga hal-hal yang perlu diperbaiki," katanya.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menjelaskan, catatan yang disampaikan Pansus Pengawasan Covid-19, secara garis besar ada enam poin besar, yaitu penanganan kesehatan, penanganan sektor pendidikan, program ekonomi, program bantuan sosial, pelaksanaan PSBB hingga PPKM, serta perbaikan penguatan regulasi.

Atang mencontohkan, pada penanganan kesehatan, Pansus memberikan catatan bahwa ketersediaan ambulance untuk mobilitas angkutan warga positif Covid-19 masih terbatas, tes swab PCR menunggu hasilnya lama, sehingga dikhawatirkan menjadi faktor penyebaran Covid-19 semakin tinggi.

Catatan lainnya dari Pansus, adalah, di bidang sosial, perlu dilakukan sinkronisasi data warga tidak mampu dan warga terdampak Covid-19, sehingga bantuan sosial yang diberikan bisa tepat sasaran. Di bidang pendidikan, perlu disediakan layanan wifi gratis di tiap RW, karena pembelajaran jarak jauh (PJJ) masih terus berlangsung, sedangkan kesiapan orang tua untuk menyediakan fasilitas tersebut terbatas.